Sabtu, 14 Februari 2009

dihibrid -- genetika dasar

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya.

Adapun judul laporan ini adalah “Dihibrida” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Genetika Dasar Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Genetika Dasar di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan, yaitu Prof. Dr. Ir. H. T. M. Hanafiah Oelim, DAA., Lutfi Azis Mahmud Siregar, SP. MP. PhD., Ir. Hasmawi Hasyim, MS., dan Ir. Emmy Harso Kardhinata, MSc. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada abang dan kakak asisten yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan laporan ini.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa mendatang.

Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih dan semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, November 2008

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………….……………………………… …… i

DAFTAR ISI …….………………..………………………………….… ii

PENDAHULUAN

Latar Belakang …………………………………………….…… 1

Tujuan Percobaan …………………….………………………... 2

Kegunaan Percobaan ………………….……………………….. 2

TINJAUAN PUSTAKA ……………………………………….……… 3

BAHAN DAN METODE PERCOBAAN

Tempat dan Waktu Percobaan ………………………………… 6

Bahan dan Alat ……………………………………..…………. 6

Prosedur Percobaan ……………………………………..……… 6

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil ………………………………………………………….… 8

Diagram Persilangan …………………………………………… 9

Perhitungan …………………………………………....……….. 10

Pembahasan ……………………………………..………..……. 10

KESIMPULAN ……………………………..………………………… 13

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pada perkawinan antara Mirabilis jalapa berbunga merah dengan Mirabilis jalapa berbunga putih, kita hanya memperhatikan satu sifat beda, yaitu mengenai warna. Dipandang dari jumlah sifat beda ini, maka F1 sebagai hasil kawin silang kita sebut suatu monohibrida. Dalam praktek, dua varietas itu dapat mempunyai sifat beda lebih daripada satu, kecuali mengenai warna, bunga dapat berbeda dalam bentuknya, demikian pula mengenai daun dan bijinya. Maka hasil kawin silang antara dua varietas yang mempunyai 2, 3 atau banyak sifat beda merupakan F1 yang kita sebut dihibrida, trihibrida, polihibrida (Dwidjoseputro, 1981).

Suatu genotipe dihibrida adalah heterozigot pada dua lokus. Dihibrida membentuk empat gamet yang secara genetik berbeda dengan frekuensi yang kira-kira sama karena orientasi acak dari pasangan kromosom nonhomolog pada piringan metafase meiosis pertama. Uji silang (test cross) adalah perkawinan genotipe yang tidak diketahui benar dengan genotipe yang homozigot resesif pada semua lokus yang sedang dibicarakan. Fenotipe-fenotipe tipe keturunan yang dihasilkan oleh suatu uji silang mengungkapkan jumlah macam gamet yang dibentuk oleh genotipe parental yang diuji. Bila semua gamet individu diketahui, maka genotipe individu itu juga akan diketahui. Suatu uji silang monohibrida menghasilkan ratio fenotipe 1:1, menunjukkan bahwa ada satu pasang faktor yang memisah. Suatu uji silang dihibrida menghasilkan ratio 1:1:1:1, menunjukkan bahwa ada dua pasang faktor yang berpisah dan berpilih secara bebas (Stansfield, 1991).

Hukum ini berlaku (Pengelompokan gen secara bebas) ketika pembentukan gamet, dimana gen sealel secara bebas pergi ke masing-masing kutub ketika meiosis. Pembuktian hukum ini dipakai pada dihibrid atau polihibrid, yakni persilangan dari individu yang memiliki 2 atau lebih karakter berbeda (Yatim, 1980).

Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah:

- Untuk menentukan sifat (gen) dominan/resesif

- Untuk menentukan genotipe-genotipe individu dari induknya sampai dengan F1

- Untuk menentukan diagram persilangan

- Untuk membuktikan adanya ratio perbandingan 9:3:3:1.

Kegunaan Percobaan

1. Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Genetika Dasar Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan

2. Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Hibrid adalah turunan dari suatu persilangan antara dua individu yang secara genetik berbeda. Arti hibrid semacam itu juga dikemukakan oleh Gardner. Hibrid dapat dibedakan menjadi monohibrid, dihibrid, trihibrid dan bahkan polihibrid tergantung pada jumlah sifat yang diperhatikan pada persilangan itu (Corebima, 1997).

Persilangan dihibrid adalah persilangan antara individu untuk 2 gen yang berbeda. Eksperimen Mendel dengan bentuk biji dan warna ercis adalah sebuah contoh dari persilangan dihibrid. Metode Punnett kuadrat menentukan rasio fenotipe dan genotipenya. Metode ini pada dasarnya sama dengan persilangan monohibrid. Perbedaan utamanya ialah masing-masing gamet sekarang memiliki 1 alel dengan 1 atau 2 gen yang berbeda (Johnson, 1983).

Suatu genotipe dihibrida adalah heterozigot pada dua lokus. Dihibrida membentuk empat gamet yang secara genetik berbeda dengan frekuensi yang kira-kira sama karena orientasi acak dari pasangan kromosom nonhomolog pada piringan metafase meiosis pertama. Uji silang (test cross) adalah perkawinan genotipe yang tidak diketahui benar dengan genotipe yang homozigot resesif pada semua lokus yang sedang dibicarakan. Fenotipe-fenotipe tipe keturunan yang dihasilkan oleh suatu uji silang mengungkapkan jumlah macam gamet yang dibentuk oleh genotipe parental yang diuji. Bila semua gamet individu diketahui, maka genotipe individu itu juga akan diketahui. Suatu uji silang monohibrida menghasilkan ratio fenotipe 1:1, menunjukkan bahwa ada satu pasang faktor yang memisah. Suatu uji silang dihibrida menghasilkan ratio 1:1:1:1, menunjukkan bahwa ada dua pasang faktor yang berpisah dan berpilih secara bebas (Stansfield, 1991).

Ratio fenotipe klasik yang dihasilkan dari perkawinan dihibrida adalah 9:3:3:1, ratio ini diperoleh oleh alel-alel pada kedua lokus memperlihatkan hubungan dominan dan resesif. Ratio ini dapat dimodifikasi jika atau kedua lokus mempunyai alel-alel dominan dan alel lethal (Gardner, 1981).

Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah:

- Untuk menentukan sifat (gen) dominan/resesif

- Untuk menentukan genotipe-genotipe individu dari induknya sampai dengan F1

- Untuk menentukan diagram persilangan

- Untuk membuktikan adanya ratio perbandingan 9:3:3:1.

Kegunaan Percobaan

- Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Genetika Dasar Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan

- Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA

Dihibrid merupakan bagian dari hukum Mendel II, yaitu pengelompokan gen secara bebas (Independent Assortment of Genes). Hukum ini berlaku ketika pembentukan gamet, dimana gen sealel secara bebas pergi ke masing-masing kutub ketika meiosis. Pembuktian hukum ini dipakai pada dihibrid dan polihibrid, yakni persilangan dari individu yang memiliki 2 atau lebih karakter berbeda. Disebut juga Hukum Asortasi (Yatim, 1983).

Dua sifat beda yang dipelajari Mendel yaitu bentuk dan warna kapri. Pada penelitian terdahulu diketahui bahwa biji bulat (W) dominan terhadap biji berkerut (w), dan menghasilkan nisbah 3:1. Pada keturunan F2, Mendel juga mendapatkan bahwa warna biji kuning (G) dominan terhadap biji hijau (g), dan segregasi dengan nisbah 3:1. Persilangan kapri dihibrida berbiji kuning bulat dan berbiji hijau berkerut menghasilkan nisbah fenotipe 9:3:3:1. Nisbah genotipenya dapat diperoleh dengan menjumlahkan genotipe-genotipe yang sama di antara 16 genotipe yang terlihat dalam segitiga Punnett (Crowder, 1999).

Prinsip segregasi berlaku untuk kromosom homolog. Pasangan-pasangan kromosom homolog yang berbeda mengatur sendiri pada khatulistiwa metafase I dengan cara bebas dan tetap bebas selama meiosis. Sebagai akibatnya, gen-gen yang terletak pada kromosom nonhomolog, dengan kata lain, gen-gen yang tidak terpaut mengalami pemilihan bebas secara meiosis (Goodenough, 1984).

Mendel memperoleh hasil yang tetap sama dan tidak berubah-ubah pada pengulangan dengan cara penyilangan dengan kombinasi sifat yang berbeda. Pengamatan ini menghasilkan formulasi hukum genetika Mendel kedua, yaitu hukum pilihan acak, yang menyatakan bahwa gen-gen yang menentukan sifat-sifat yang berbeda dipindahkan secara bebas satu dengan yang lain, dan sebab itu akan timbul lagi secara pilihan acak pada keturunannya. Individu-individu demikian disebut dihibrida atau hibrida dengan 2 sifat beda (Pai, 1992).

Dihibrida membentuk empat gamet yang secara genetik berbeda dengan frekuensi yang kira-kira sama karena orientasi secara acak dari pasangan kromosom nonhomolog pada piringan metafase meiosis pertama. Bila dua dihibrida disilangkan, akan dihasilkan 4 macam gamet dalam frekuensi yang sama baik pada jantan maupun betina. Suatu papan-periksa genetik 4 x 4 dapat digunakan untuk memperlihatkan ke-16 gamet yang dimungkinkan. Rasio fenotipe klasik yang dihasilkan dari perkawinan genotipe dihibrida adalah 9:3:3:1. Rasio ini diperoleh bila alel-alel pada kedua lokus memperlihatkan hubungan dominan dan resesif (Stansfield, 1991).

Mendel melakukan persilangan ini dan memanen 315 ercis bulat-kuning, 101 ercis keriput-kuning, 108 bulat-hijau dan 32 ercis keriput-hijau. Ciri khas karya Mendel yang cermat ialah bahwa ia lalu menanam semua ercis ini dan membuktikan adanya genotipe terpisah di antara setiap ercis dengan kombinasi baru ciri-cirinya. Hanyalah 32 ercis keriput-hijau yang merupakan genotipe tunggal. Hasil-hasil ini membuat Mendel mendirikan hipotesisnya yang terakhir (hukum Mendel kedua): Distribusi satu pasang faktor tidak bergantung pada distribusi pasangan yang lain. Hal ini dikenal sebagai hukum pemilihan bebas (Kimball, 1983).

Berkenaan dengan ciri biji hasil persilangan pada F2, Mendel sudah mempertimbangkan dua kemungkinan, yaitu:

a. Ciri-ciri yang berasal dari satu induk akan diwariskan secara bersama-sama

b. Ciri-ciri yang berasal dari satu induk akan diwariskan secara bebas satu sama lain.

Hasil persilangan yang tampak pada F2 memperlihatkan rasio yang mendekati 9:3:3:1, sebagaimana yang diharapkan pada kemungkinan b. Atas dasar kenyataan ini, Mendel menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang menentukan karakter-karakter berbeda diwariskan secara bebas satu sama lain. Kesimpulan inilah yang merupakan pernyataan pada hukum pemilihan bebas Mendel (Otto dan Towle, 1965).

Mendel memperoleh bukan hanya dua tipe induk, tetapi juga dua tipe baru sebagai hasil dari pencampuran karakter dari kedua induk. Ini menunjukkan bahwa kedua faktor tersebut tidak cenderung tinggal bersama dalam kombinasi yang sama dengan di mana mereka ditemukan pada induk asli, P1 nya. Pemisahan kelakuan di antara gen-gen inilah yang dinamakan hukum pemilihan bebas (Winchester, 1958).

Pada persilangan dihibrid pada tanaman kapri, yaitu memiliki sifat warna kuning dan bentuk biji bulat (dominan) dengan biji berkerut dan warna hijau (resesif). Jika F1 diturunkan sesamanya menghasilkan F2, jika X2 hitung <>2 tabel maka hasil percobaan sesuai dengan Hukum Mendel (Hasyim, 2005). Metode chi kuadrat adalah cara yang dapat kita pakai untuk membandingkan data percobaan yang diperoleh dari persilangan dengan hasil yang diharapkan (Kusdiarni, 1999).

BAHAN DAN METODE PERCOBAAN

Tempat dan Waktu Percobaan

Percobaan ini dilakukan di areal Laboratorium Genetika Dasar Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 2.5 m pada hari Jumat, 29 Agustus 2008.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah benih jagung sebagai objek percobaan, pupuk Urea, TSP dan KCl sebagai nutrisi tanaman, kompos sebagai nutrisi tanaman, tanah sebagai media tanam dan air untuk menyiram tanaman.

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah cangkul sebagai alat untuk menggemburkan lahan, gembor sebagai alat untuk menyiram tanaman, pacak sampel untuk memudahkan dalam mengenal tanaman dan pengambilan data, plank nama untuk memberi tanda pada lahan percobaan, kalkulator untuk menghitung data percobaan, meteran untuk mengukur lahan, tugal untuk membuat lubang tanam, spanduk sebagai penutup lahan agar tidak dirusak oleh hewan liar, tali sebagai pembatas lahan dan alat tulis untuk menulis data percobaan.

Prosedur Percobaan

- Lahan dipersiapkan dengan ukuran 7m x 2m

- Lahan yang telah dipersiapkan dibersihkan dari segala rerumputan, setelah itu dilakukan penggemburan

- Setelah digemburkan, dibuat lubang tanam dengan jarak tanam 75cm x 30 cm

- Selanjutnya benih jagung ditanam dengan 2 benih / lubang tanam, setelah penanaman hal yang perlu diperhatikan adalah perawatan tanaman meliputi penyiraman, pemupukan, penyiangan. Khusus pemupukan akan diterangkan oleh asisten

- Diambil data tinggi tanaman pada saat daun bendera pembungkus malai muncul

- Dikelompokkan tanaman menjadi tanaman tinggi dan rendah

- Dianalisis data dengan Chi-Square dengan rumus sebagai berikut:

12x2 "> = 12ε (O-E)2E">

di mana:

12x2"> = Chi-Square

O = Frekuensi observasi

E = Frekuensi yang diharapkan

12ε"> = Sigma/jumlah

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Tanaman ke-

Tinggi Tanaman (cm)

Berat tongkol (gr)

Fenotipe

Tinggi

Rendah

Berat

Ringan

1

179

148

ü

ü

2

188

195

ü

ü

3

191

108

ü

ü

4

218

165

ü

ü

5

186

76

ü

ü

6

155

121

ü

ü

7

191

126

ü

ü

8

193

ü

ü

9

187

140

ü

ü

10

188

ü

ü

11

161

90

ü

ü

12

178

105

ü

ü

13

201

151

ü

ü

14

207

90

ü

ü

15

156

-

ü

ü

16

165

185

ü

ü

17

197.5

50

ü

ü

18

216

-

ü

ü

19

208

145

ü

ü

20

215

180

ü

ü

21

230

220

ü

ü

22

210

115

ü

ü

23

213

100

ü

ü

24

223

65

ü

ü

25

245

175

ü

ü

26

247

190

ü

ü

27

218

-

ü

ü

28

190

-

ü

ü

29

198

-

ü

ü

30

142

-

ü

ü

31

205

100

ü

ü

32

211

130

ü

ü

33

173

120

ü

ü

34

211

105

ü

ü

35

198

105

ü

ü

36

198

110

ü

ü

37

252

210

ü

ü

38

176

80

ü

ü

39

201

65

ü

ü

40

201

110

ü

ü

Total

7893.5

4075

22

18

23

17

Rata-rata

197.34

101.875

Diagram persilangan

P : ♂ TTBB x ttbb

Tinggi Berat Rendah Ringan

F1 = TtBb

(Tinggi Berat)

F2 = TtBb x TtBb

F2

TB

Tb

tB

Tb

TB

TTBB

TTBb

TtBB

TtBb

Tb

TTBb

TTbb

TtBb

Ttbb

tB

TtBB

TtBb

ttBB

ttBb

tb

TtBb

Ttbb

ttBb

ttbb

Tinggi Berat : Tinggi Ringan : Rendah Berat : Rendah Ringan

9 : 3 : 3 : 1

Genotipe :

TTBB : TTBb : TtBB : TtBb : TTbb : Ttbb : ttBB : ttBb : ttbb

1 : 2 : 2 : 4 : 1 : 2 : 1 : 2 : 1

Fenotipe :

Tinggi Berat : Tinggi Ringan : Rendah Berat : Rendah Ringan

9 : 3 : 3 : 1

Perhitungan

No

Fenotipe

Jumlah

1

Tinggi Berat

14

2

Tinggi Ringan

8

3

Rendah Berat

9

4

Rendah Ringan

9

Fenotipe

O

E

O – E

(O-E)2

(O-E)2/E

Tinggi Berat

14

22.5

-8.5

72.25

3.21

Tinggi Ringan

8

7.5

0.5

0.25

0.03

Rendah Berat

8

7.5

-1.5

2.25

0.3

Rendah Ringan

9

2.5

6.5

42.25

16.9

Total

40

40

117

20.44

12x2 "> = 12ε (O-E)2E">

x2 tabel = 5.991

x2h > x2t

20.44 > 5.991 → tidak sesuai dengan hukum Mendel

Pembahasan

Dari hasil percobaan dapat diketahui bahwa tinggi tanaman tertinggi adalah 252 cm dan terendah adalah 142 cm, sedangkan berat tongkol terberat adalah 220 gr dan teringan adalah – (tidak terdapat tongkol pada tanaman). Ini merupakan hasil persilangan antara jagung bergenotipe tinggi berat dengan yang bergenotipe rendah ringan. Persilangan ini dinamakan dihibrida, yaitu persilangan dari individu yang memiliki dua sifat beda. Hal ini sesuai dengan literatur Yatim (1983) yang menyatakan bahwa dihibrid merupakan bagian dari hukum Mendel II, yaitu pengelompokan gen secara bebas (Independent Assortment of Genes). Pembuktian hukum ini dipakai untuk pada dihibrid atau polihibrid, yakni persilangan dari individu yang memiliki dua atau lebih karakter berbeda. Disebut juga hokum asortasi.

Dari hasil percobaan dapat diketahui bahwa terdapat empat jenis tanaman yang merupakan hasil persilangan dihibrida. Sifat-sifat itu adalah tinggi berat, tinggi ringan, rendah berat dan rendah ringan. Ini karena persilangan dihibrida dapat membentuk empat gamet yang secara genetik berbeda. Hal ini sesuai dengab literatur Stansfield (1991) yang menyatakan bahwa dihibrida membentuk empat gamet yang secara genetik berbeda dengan frekuensi yang kira-kira sama. Bila dua dihibrida disilangkan, akan dihasilkan empat macam gamet dalam frekuensi yang sama baik pada jantan maupun betina.

Dari hasil percobaan dapat diketahui bahwa X2 hitung > X2 tabel, yaitu 20.44 > 5.991. Ini menunjukkan bahwa hasil persilangan tidak sesuai dengan hukum Mendel, di mana X2 hitung <>2 tabel. Hal ini sesuai dengan literatur Hasyim (2005) yang menyatakan bahwa jika F1 diturunkan sesamanya akan menghasilkan F2, jika X2 hitung <>2 tabel maka hasil percobaan sesuai dengan Hukum Mendel.

Dari hasil percobaan diketahui bahwa hasil persilangan yang tampak pada F2 tidak sesuai dengan hukum II Mendel. Tetapi hasil tersebut masih merupakan ciri hukum II Mendel, yaitu kara kter-karakter berbeda diwariskan secara bebas satu sama lain. Hal ini sesuai dengan pernyataan Otto dan Towle (1965) yang menyatakan bahwa berkenaan dengan ciri hasil persilangan pada F2, Mendel sudah mempertimbangkan dua kemungkinan, yaitu:

a. Ciri-ciri yang berasal dari satu induk akan diwariskan secara bersama-sama

b. Ciri-ciri yang berasal dari satu induk akan diwariskan secara bebas satu sama lain.

Hasil persilangan yang tampak pada F2 memperlihatkan rasio yang mendekati 9:3:3:1, sebagaimana yang diharapkan pada kemungkinan b. Atas dasar kenyataan ini, Mendel menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang menentukan karakter-karakter berbeda diwariskan secara bebas satu sama lain. Kesimpulan inilah yang merupakan pernyataan pada hukum pemilihan bebas Mendel.

Pada percobaan diperoleh bahwa x2 tabel = 5.991 dan x2 hasil = 20.44. Hasil ini diperoleh dengan menggunakan metode chi kuadrat yang dapat digunakan untuk membandingkan data percobaan yang diperoleh dengan hasil yang diharapkan. Hal ini sesuai dengan literatur Kusdiarni (1991) yang menyatakan bahwa metode chi kuadrat adalah cara yang kita pakai untuk membandingkan data percobaan yang diperoleh dari persilangan dengan hasil yang diharapkan.

Dari hasil percobaan diperoleh empat tipe individu, yaitu tinggi berat, tinggi ringan, rendah berat dan rendah ringan. Di mana dua dari empat tipe individu tersebut adalah tipe induk asli (P1) dan dua tipe lainnya adalah tipe individu baru yang merupakan pencampuran dari kedua induk. Hal ini sesuai dengan pernyataan Winchester (1958) yang menyatakan bahwa Mendel memperoleh bukan hanya dua tipe induk, tetapi juga dua tipe baru sebagai hasil dari pencampuran karakter dari kedua induk. Ini menunjukkan bahwa kedua faktor tersebut tidak cenderung tinggal bersama dalam kombinasi yang sama dengan di mana mereka ditemukan pada induk asli, P1 nya. Pemisahan kelakuan di antara gen-gen inilah yang dinamakan hukum pemilihan bebas.

KESIMPULAN

1. X2 perhitungan = 20.44 sedangkan X2 tabel = 5.991, x2h > x2t sehingga X2 perhitungan tidak sesuai dengan hukum Mendel.

2. Total tinggi tanaman adalah 7893.5 cm dan berat tongkol adalah 4075 gr.

3. Rata-rata tinggi tanaman adalah 197.34 cm dan rata-rata berat tongkol adalah 101.875 gr.

4. Dari percobaan diketahui bahwa tinggi tanaman tertinggi adalah 252 cm dan terendah adalah 142 cm, sedangkan berat tongkol terberat adalah 220 gr dan teringan adalah – (tidak terdapat tongkol pada tanaman).

5. Fenotipe tinggi adalah 22 tanaman dan fenotipe rendah adalah 18 tanaman, sedangkan fenotipe berat adalah 23 tanaman dan fenotipe ringan adalah 17 tanaman.

DAFTAR PUSTAKA

Corebima, A. D., 1997. Genetika Mendel. Universitas Airlangga-Press, Surabaya.

Crowder, L.V., 1999. Genetika Tumbuhan. Diterjemahkan oleh L. Kusdiarti.

Gadjah Mada Uiversity Press, Yogyakarta.

Gardner, E. J., 1981. Principle Of Genetics. Seven Edition. John Willey and Sons, New York.

Goodenough, U., 1984. Genetika. Diterjemahkan oleh Sumartono Adisoemarto.

Erlangga, Jakarta.

Hasyim, H., 2005. Genetika Dasar. Univesitas Sumatera Utara, Medan.

Johnson, L.G., 1983. Biology. Wm. C. Brown Company Publishers, Iowa.

Kimball, J.W., 1983. Biologi. Jilid I Edisi Kelima. Diterjemahkan oleh

S.S. Tjitrosomo dan N. Sugiri. Erlangga, Jakarta.

Kusdiarni, N., 1999. Genetika. Erlangga, Jakarta.

Otto, J.H. and A. Towle. 1965. Modern Biology. Holt, Rinehart and Winston,

Inc., New York.

Pai, A.C., 1992. Dasar-dasar Genetika Ilmu untuk Masyarakat. Diterjemahkan

oleh Machidin Apandi. Erlangga, Jakarta.

Stansfield, W.D., 1991. Genetika. Diterjemahkan oleh Machidin Apandi.

Erlangga, Jakarta.

Winchester, A.M., 1958. Genetics. Houghton Mifflin Company, Boston.

Yatim, W., 1983. Genetika. Tarsito, Bandung.

4 komentar: