Sabtu, 14 Februari 2009

AIR SUSU -- BIOKIMIA

AIR SUSU




LAPORAN

Oleh:

NIDA WAFIQAH NABILA M. SOLIN

070307014

II/06



FTANIAN


LABORATORIUM BIOKIMIA

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

M E D A N

2 0 0 8

AIR SUSU

LAPORAN

Oleh:

NIDA WAFIQAH NABILA M. SOLIN

070307014

II/06

Laporan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Test di Laboratorium Biokimia Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan

Diperiksa Oleh:

(NURAINUN HARAHAP)

Asisten Koordinator Group II

LABORATORIUM BIOKIMIA

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

M E D A N

2 0 0 8

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya.

Adapun judul laporan ini adalah “Air Susu” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Biokimia Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

- Ir. A. Halim Sulaiman, MSc,

- Ir. Gembira Sinuraya, MP,

- Ir. Ismed Suhaidi, M.Si,

- Mimi Nurminah STP. MSi

selaku dosen mata kuliah Biokimia di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada abang dan kakak asisten yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan laporan ini.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa mendatang.

Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih dan semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, November 2008

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………….…………………………………………………… i

DAFTAR ISI ……………………………………………………..…………………………………..…………….ii

PENDAHULUAN

Latar Belakang ……………………………………………………………………………………… 1

Tujuan Percobaan ……………………………………………………………………..…... 3

Kegunaan Percobaan ………………………………………………………………………... 3

TINJAUAN PUSTAKA ……………………………………………………………………………………….……… 4

BAHAN DAN METODE …………………………………………………………………………………………….. 8

Bahan ………………………………………………………………………………………………………………. 7

Reagensia ……………………………………………………………………………………………………… 7

Alat …………………………………………………………………………………………………………………. 8

Prosedur Percobaan …………………………………………………………..……………… 9

HASIL DAN REAKSI ……………………………………………………………………………………………… 11

Hasil ……………………………………………………………………………………………………….……… 11

Reaksi………………..……………………………..…………………………………………………... 14

PEMBAHASAN …………….………………………………………………………………………………..…………… 16

KESIMPULAN ………………………………………………………………………………………………………………… 19

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Air susu ibu (ASI) adalah makanan yang paling baik untuk bayi. ASI mempunyai komposisi yang unik, sempurna susunan biokimiawi untuk kebutuhan bayi dan melindungi bayi dari bahaya kekurangan gizi maupun penyakit infeksi. Tidak ada makanan lain sebaik ASI, karena itu berikanlah ASI kepada anak anda. ASI dapat mencukupi seluruh kebutuhan makanan tambahan selain ASI (Husayni, 2001).

ASI mengandung bermacam-macam enzim. Enzim pada ASI tersebut berfungsi membantu pencernaan bayi dimana fungsi pankreas masih belum sempurna sebagai pengangkut logam-logam (Fe, Mg, Zn, Sc) dan berfungsi sebagai anti infeksi. ASI merupakan buffer yang bagus yang dapat meningkatkan Ph sebagai 5,5-6,0 (Williams and Baum, 1984).

Setiap macam susu berbeda susunan zat-zat gizi yang dikandungnya. Komposisi air susu disesuaikan dengan macam makhluk dan kecepatan pertumbuhan anak-anaknya. Anak sapi lebih cepat tumbuh dari anak manusia, oleh karena itu protein yang ada di dalam air susu sapi lebih banyak tiga kali lipat daripada protein di dalam ASI (World Health Organization, 1999).

ASI yang pertama keluar adalah kolostrum, menjamin bayi baru lahir dapat beradaptasi dan berhasil melewati masa transisi menuju kehidupan pasca lahir yang mandiri. Kolostrum adalah cairan yang lengket kekuningan yang mengisi sel-sel alveolor selama trimester terakhir kehamilan dan disekresikan selama beberapa hari setelah melahirkan. Jumlah kolustrum yang disekresikan sangat bervariasi berkisar antara 10-100 ml/hari, dengan rata-rata sekitar 30 ml. Sekresi itu akan meningkat secara bertahap dan mencapai komposisi matang pada 30-40 jam setelah lahir (Akre, 1987).

Perbandingan komposisi ASI dan susu sapi juga susu buatan pengganti ASI juga tersedia secara luas. Beberapa dari ratusan komponen dalam ASI sudah dibuat daftarnya, tetapi tidak berhasil menjelaskan perbedaan-perbedaan antara jenis susu tersebut. Sebagai contoh, protin susu bovine (lembu), baik dari air mendidih maupun kasein, struktur dan kualitasnya berbeda dengan protein ASI manusia, dan bias menimbulkan respon antigen (World Health Organization, 1999).

Anak sapi dapat membuat vitamin C di dalam badannya, sehingga anak sapi tidak membutuhkan vitamin C yang berasal dari makanan. Manusia tidak dapat membuat vitamin C, karena itu vitamin merupakan zat yang essensial yang harus didapatkan dari makanan. ASI mengandung vitamin C dua sampai tiga kali lipat lebih banyak dari susu sapi. Jadi, ASI adalah makanan yang paling tepat untuk bayi (Husayni, 2001).

Tujuan Percobaan

Untuk mengetahui sifat-sifat lemak dan protein pada susu secara kualitatif.

Kegunaan Percobaan

- Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Test di Laboratorium Biokimia Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

- Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA

Susu merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan mikroba. Hal ini karena komposisi nutrisinya sangat ideal untuk peretumbuhan mikroba. Apabila sapi dalam keadaan sehat, maka susu yang dihasilkannya juga dalam keadaan steril. Sumber-sumber pencemaran mikroba dalam susu adalah saluran putting susu, lingkungan kandang (lantai kandang, debu, udara dan air), tubuh dan kotoran sapi, pakan, peralatan pemerahan, pekerja, pencemaran selama penyimpanan, pengangkutan dan pemasaran (Nurwantoro dan Abbas, 1997).

ASI juga mengandung zat-zat yang penting dalam pencegahan maupun penatalaksanaan diare, yaitu:

  1. Protein ASI lebih rendah dari protein sapi tetapi kualitasnya lebih baik daripada protein susu sapi. Susu merupakan sumber protein dengan mutu yang tinggi
  2. Lemak ASI lebih tinggi daripada lemak susu sapi. Disamping itu ASI merupakan sumber kalori dan sumber vitamin yang larut dalam lemak (vitamin A, D, E dan K)
  3. Karbohidrat pada ASI terutama adalah laktosal, dimana laktosa ASI lebih tinggi daripada susu sapi yang merupakan sumber kalori bagi bayi.
  4. Vitamin terdapat pada ASI.
  5. Mineral pada ASI.

(Soetjiningsih, 1997).

Susu adalah nutrisi terpenting selama proses pertumbuhan. Masyarakat sekarang ini selalu mengkonsumsi susu karena tersedia dengan formula-formula yang penting bagi tubuh. Reaksi susu sangat mudah dipengaruhi pada proses penyimpanan. Karena susu yang disimpan di bawah suhu penyimpanan akan berakibat emulsi susu akan pecah, lemaknya akan terpisah dan terjadi denaturasi (Williams and Caliendo, 1990).

Susunan asam-asam lemak air susu pun dipengaruhi oleh sumber-sumber lemak dalam ransum. Sebagai contoh penambahan lard menaikkan kadar oleat dan asam-asam lemak tidak jenuh lainnya. Penambahan minyak jagung menaikkan linoleat, penambahan minyak kelapa menaikkan asam laurik dan asam minstik (Parakkasi, 1990).

Komposisi ASI tidak konstan dan tidak sama dari waktu ke waktu. Beberapa faktor yang mempengaruhi komposisi ASI adalah stadium laktasi, ras, keadaan gizi, diet. Stadium laktasi terdiri dari tiga tingkatan, yaitu kolostrum, air susu masa transisi dan air susu masa mature. Kolostrum merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar mama, kolostrum ini berlangsung sekitar 3 sampai 4 hari setelah ASI pertama kali keluar (Supariasa, 2001).

Kolostrum merupakan makanan yang kepekatannya tinggi dan volumenya sedikit. Mengandung lebih sedikit laktosa, lemak, dan vitamin-vitamin yang larut dalam air, dibandingkan dengan ASI matang, tetapi kaya akan ptotein. Vitamin-vitamin yang larut dalam lemak (termasuk vitamin E, A dan K) dan mineral-mineral. Juga sangat tinggi imunoglobin dan faktor-faktor pelindung lainnya sehingga ASI dapat dianggap alamiah sebagaimana juga makanan alamaiah (Sulaiman, 1995).

BAHAN DAN METODE PERCOBAAN

Bahan

  • Susu sapi Segar
  • Susu Kedelai
  • Susu Dancow Putih
  • Susu Dancow Coklat
  • Susu Indomilk Putih
  • Susu Indomilk Coklat
  • Susu Kental Manis Putih
  • Susu Kental Manis Coklat
  • Air Susu Ibu (ASI)
  • Susu Sapi Segar + Formalin

Regensia

· Eter

· H2O (Air)

· Pb(CH3COOH)2

· NaOH 0,1 N

· CuSO4 0,1 N

· Milonase

· KMnO4 0,1 N

Alat

· Tabung Reaksi

· Rak Tabung Reaksi

· Penjepit Tabung Reaksi

· Kaki Tiga

· Kawat Kasa

· Bunsen

· Beaker Glass

· Pipet Tetes

· Label Nama

· Korek Api

· Brush Tabung Reaksi

· Serbet

· Flanel

Prosedur Percobaan

A. Adanya Lemak

- Diambil Tabung reaksi, masing-masing diisi dengan contoh susu.

- Tiap tabung diisi dengan 1cc eter, kemudian dipanaskan, dikocok, dan diamati.

B. Adanya Protein

- Diambil Tabung reaksi, masing-masing diisi dengan contoh susu 5ml.

- Dimasukkan Pb(CH3COOH)2 0,1N 5cc tetes demi tetes.

- Disaring gumpalan dengan kertas saring dan diamati.

C. Reaksi Biuret

- Diambil Tabung reaksi, masing-masing diisi dengan contoh susu.

- Dimasukkan 1cc NaOH 0,1N dan CuSO4 0,1N 1cc dan dikocok.

- Dilakukan observasi visual.

D. Reaksi Milon (Logam Berat)

- Diambil Tabung reaksi, masing-masing diisi dengan contoh susu.

- Dimasukkan milonase 2cc.

- Dipanaskan selama 10 menit.

- Ditambahkan Pb(CH3COOH)2 1cc.

- Dilakukan obsevasi visual.

E. Reaksi Xanthoprotein

- Diambil Tabung reaksi, masing-masing diisi dengan contoh susu.

- Dimasukkan HNO3 1cc dan NaOH 1cc.

- Dipanaskan selama 10 menit.

- Dilakukan observasi visual.

F. Uji Formalin

- Diambil Tabung reaksi, masing-masing diisi dengan contoh susu 9 ml.

- Dimasukkan dalam tabung reaksi.

- Diteteskan dengan KMnO4 0,1N 5 tetes.

- Dikocok

- Diamati apaka warna KMnO4 bertahan. Jika warna KMnO4 luruh selama 30 menit atau lebih cepat berarti mengandung formalin.

- Diamati perbedaanya.

HASIL DAN REAKSI

Hasil

No

Bahan

Pereaksi

Observasi visual

Keterangan

1.

Adanya Lemak

Susu Sapi

1 cc Eter

Endapan Putih

Dipanaskan, Dikocok, diamati

Susu Kedelai

1 cc Eter

Larutan Encer

Dipanaskan, Dikocok, Diamati

Dancow Putih

1 cc Eter

Larutan Encer

Dipanaskan, Dikocok, Diamati

Dancow Coklat

1 cc Eter

Endapan Coklat

Dipanaskan, Dikocok, Diamati

Indomilk Putih

1 cc Eter

Larutan Encer

Dipanaskan, Dikocok, Diamati

Indomilk Coklat

1 cc Eter

Endapan Coklat

Dipanaskan, Dikocok, Diamati

Kental Manis Putih

1 cc Eter

Larutan Encer

Dipanaskan, Dikocok, Diamati

Kental Manis Coklat

1 cc Eter

Larutan Encer

Dipanaskan, Dikocok, Diamati

ASI

1 cc Eter

Endapan Putih

Dipanaskan, Dikocok, Diamati

2.

Adanya Protein

Susu Sapi

5 cc Pb(CH3COOH)2

Bening

Disaring

Susu Kedelai

5 cc Pb(CH3COOH)2

Bening

Disaring

Dancow Putih

5 cc Pb(CH3COOH)2

Putih

Disaring

Dancow Coklat

5 cc Pb(CH3COOH)2

Kuning

Disaring

Indomilk Putih

5 cc Pb(CH3COOH)2

Putih

Disaring

Indomilk Coklat

5 cc Pb(CH3COOH)2

Kuning

Disaring

Kental Manis Putih

5 cc Pb(CH3COOH)2

Bening

Disaring

Kental Manis Coklat

5 cc Pb(CH3COOH)2

Bening

Disaring

ASI

5 cc Pb(CH3COOH)2

Bening

Disaring

3.

Reaksi Biuret

Susu Sapi

1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N

Endapan Putih

Dikocok

Susu Kedelai

1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N

Gumpalan Putih

Dikocok

Dancow Putih

1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N

Endapan Putih

Dikocok

Dancow Coklat

1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N

Endapan Coklat

Dikocok

Indomilk Putih

1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N

Endapan Putih

Dikocok

Indomilk Coklat

1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N

Endapan Coklat

Dikocok

Kental Manis Putih

1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N

Endapan Putih

Dikocok

Kental Manis Coklat

1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N

Endapan Coklat

Dikocok

ASI

1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N

Endapan Putih

Dikocok

4.

Reaksi Millon

Susu Sapi

2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2

Endapan Putih

Dipanaskan 10 menit dan diamati

Susu Kedelai

2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2

Endapan Putih

Dipanaskan 10 menit dan diamati

Dancow Putih

2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2

Endapan Putih

Dipanaskan 10 menit dan diamati

Dancow Coklat

2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2

Gumpalan Coklat

Dipanaskan 10 menit dan diamati

Indomilk Putih

2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2

Gumpalan Putih

Dipanaskan 10 menit dan diamati

Indomilk Coklat

2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2

Endapan Coklat

Dipanaskan 10 menit dan diamati

Kental Manis Putih

2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2

Endapan Putih

Dipanaskan 10 menit dan diamati

Kental Manis Coklat

2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2

Endapan Coklat

Dipanaskan 10 menit dan diamati

ASI

2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2

Endapan Coklat

Dipanaskan 10 menit dan diamati

5.

Reaksi Xanthoprotein

Susu Sapi

1 cc HNO3 + 1 cc NaOH

Gumpalan Kuning

Dipanaskan 10 menit

Susu Kedelai

1 cc HNO3 + 1 cc NaOH

Gumpalan Kuning

Gumpalan Kuning

Dancow Putih

1 cc HNO3 + 1 cc NaOH

Gumpalan Kuning

Gumpalan Kuning

Dancow Coklat

1 cc HNO3 + 1 cc NaOH

Gumpalan Kuning

Gumpalan Kuning

Indomilk Putih

1 cc HNO3 + 1 cc NaOH

Gumpalan Kuning

Gumpalan Kuning

Indomilk Coklat

1 cc HNO3 + 1 cc NaOH

Gumpalan Kuning

Gumpalan Kuning

Kental Manis Putih

1 cc HNO3 + 1 cc NaOH

Gumpalan Kuning

Gumpalan Kuning

Kental Manis Coklat

1 cc HNO3 + 1 cc NaOH

Gumpalan Kuning

Gumpalan Kuning

ASI

1 cc HNO3 + 1 cc NaOH

Gumpalan Coklat

Gumpalan Kuning

6.

Uji Formalin

Susu Sapi

KMnO4 0,1 N 5 tetes

(-)

Susu Kedelai

KMnO4 0,1 N 5 tetes

(-)

Dancow Putih

KMnO4 0,1 N 5 tetes

(++)

Dancow Coklat

KMnO4 0,1 N 5 tetes

(+)

Indomilk Putih

KMnO4 0,1 N 5 tetes

(++)

Indomilk Coklat

KMnO4 0,1 N 5 tetes

(+)

Kental Manis Putih

KMnO4 0,1 N 5 tetes

(+)

Kental Manis Coklat

KMnO4 0,1 N 5 tetes

(++)

ASI

KMnO4 0,1 N 5 tetes

(-)

Susu Sapi Formalin

KMnO4 0,1 N 5 tetes

(+++)

Reaksi

a. Adanya Lemak

O

H2C – O – C

R′

O

HC O C + 3 ( C2H5OH (C2H5)) Larut

R2

O

H2C–O–C

R3

b. Adanya protein

H H R O R

O O O–C–C–NH2–CH3COOH

R–C–C–OH + Pb (CH3COOH)2 N –C – C –O– Pb

H

NH2 H H

c. Reaksi biuret

H H

O

R–C–C + NaOH–R–C–COONa + CuSO4 Cu (R–CH2–COONa)2 + (NH)2 SO4

OH

NH2 NH2

d. Reaksi Millen (logam berat)

O R

R O H R O

H2SO4 O–C–C–NH2

NH2–C–C–OH + Pb (CH3COOH)2 N–C–C–O–Pb

H

H H H

e. Reaksi Xanthoprotein

COOH COOH

NH4OH

+ HNO3 + H2O








f. Uji Formalin

H–CHO + O2 + KMnO4 HCOOH

Formalin N-formalin

H–CHO KMnO4 (reduktor) HCOOH

Formalin O2 As Formiat

PEMBAHASAN

Pada percobaan yang telah dilakukan, diketahui bahwa pada uji adanya protein terjadi penggumpalan pada susu kedelai, susu bubuk putih, susu bubuk coklat dan ASI yang menunjukan terjadinya denaturasi protein. Hal ini sesuai dengan literatur Williams and Caliendo (1990) yang menyatakan bahwa pada susu yang disimpan di bawah suhu penyimpanan akan berakibat emulsi, susu akan pecah, lemaknya akan terpisah atau terjadinya denaturasi protein.

Dari hasil percobaan, dapat diketahui bahwa pada percobaan reaksi Xanthoprotein, ASI yang ditambahkan 1 cc HNO3 0,1 N dan 1 cc NaOH 0,1 N menghasilkan warna kuning pucat sedangkan pada susu sapi menghasilkan warna kuning pekat. Ini karena protein yang terkandung dalam susu ASI lebih rendah daripada susu sapi. Hal ini sesuai dengan literatur Soetjiningsih (1997) yang menyatakan bahwa protein ASI lebih rendah dari protein susu sapi, lemak ASI lebih tinggi daripada lemak susu sapi, dan karbohidrat pada ASI terutama Laktosa, dimana laktosa pada ASI ini lebih tinggi dari pada susu sapi.

Dari hasil percobaan, dapat diketahui bahwa ASI pada Uji adanya Lemak terjadi Endapan putih ini dikarenakan pada ASI terdapat kolostrum yang mengandung lebih sedikit laktosa, lemak, dan vitamin-vitamin yang larut dalam air, disbandingkan dengan ASI matang, tetapi kaya akan protein, vitamin-vitamin yang larut dalam lemak. Hal ini sesuai dengan literatur Sulaiman (1995) yang menyatakan bahwa Kolostrum merupakan makanan yang kepekatannya tinggi dan volumenya sedikit. Mengandung lebih sedikit laktosa, lemak, dan vitamin-vitamin yang larut dalam air, dibandingkan dengan ASI matang, tetapi kaya akan protein, vitamin-vitamin yang larut dalam lemak.

Dari hasil percobaan, dapat diketahui bahwa ASI merupakan cairan yang pertama kali keluar yang menjamin bayi baru lahir dapat beradaptasi dan berhasil melewati masa transisi. Hal ini sesuai dengan literatur Akre (1987) yang menyatakan bahwa ASI yang pertama keluar adalah kolostrum, menjamin bayi baru lahir dapat beradaptasi dan berhasil melewati masa transisi menuju kehidupan pasca lahir yang mandiri.

Pada percobaan reaksi xantoprotein pada susu kedelai, susu kental manis dan dancow putih menghasilkan endapan kuning. Hal ini menandakan adanya protein yang terkandung pada susu tersebut. Hal ini sesuai denhan literature Soetjiningsih (1997) yang menyatakan bahwa susu adalah sumber protein dengan mutu tinggi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi susu adalah jenis ternak yang diperah waktu pemerahan, pemerahan makanan ternak, penyakit keragaman akibat musim dan umur sapi. Ini sesuai dengan pernyataan Nurwantoro dan Abbas (1997) yang menyatakan bahwa apabila sapi dalam keadaan sehat, maka susu yang dihasilkannya juga dalam keadaan steril. Sumber-sumber pencemaran mikroba dalam susu adalah saluran putting susu, lingkungan kandang (lantai kandang, debu, udara dan air), tubuh dan kotoran sapi, pakan, peralatan pemerahan, pekerja, pencemaran selama penyimpanan, pengangkutan dan pemasaran (Nurwantoro dan Abbas, 1997).

KESIMPULAN

1. Dari hasil percobaan adanya lemak, susu sapi ditambah dietil eter akan membentuk endapan.

2. Dari hasil percobaan adanya protein, susu indomilk cokelat dengan Pb(CH3COOH)2 akan membentuk larutan kuning.

3. Dari hasil percobaan reaksi biuret, susu yang diberi NaOH + CuSO4 tebentuk larutan berwarna kuning.

4. Dari hasil percobaan reaksi millon, susu indomilk yang ditambahkan dengan dengan millonase dan Pb(CH3COOH)2 terjadi gumpalan.

5. Dari hasil percobaan reaksi xantoprotein, semua susu putih yang ditambahkan HNO3 + NaOH menghasilkan gumpalan putih.

6. Dari hasil percobaan, susu sapi segar dengan Uji Formalin menghasilkan susu yang tidak mengandung formalin.

DAFTAR PUSTAKA

Akre, J., 1987. Pemberian Makanan Untuk Bayi. Kanisius,

Jakarta.

Husayni, Y. K dan H. M. Anwar., 2001. Makanan Bayi

Bergizi. UGM–Press, Yogyakarta.

Nurwantoro dan A. B. Djarijah., 1997. Mikrobiologi Pangan

Hewan-Nabati. Kanisius, Jakarta.

Parakkasi, A., 1990. Ilmu Gizi Dan Makanan Ternak.

Angkasa, Bandung.

Soetjiningsih, 1997. ASI Petunjuk untuk Tenaga

Kesehatan. EGC, Jakarta.

Sulaiman, A. H., 1995. Biokimia Untuk Pertanian.

USU-Press, Medan.

Supariasa, I. D. N., B. Bakri., I. Fajar., 2001.

Penilaian Status Gizi. Buku kedokteran, Jakarta.

Williams, E. R. and Caliendo, M. A., 1990. Nutrition.

Mc Grow Hill Book, New York

Williams, A. F and J. D. Baum., 1984. Human Milk Banking.

Raven Press, New York.

World Health Organization., 1999. Management of Severe

Malnutrition. WHO, Geneva.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar